Penderita Kanker Menolak Pengobatan Medis Konvensional :: Nakinisa Sima

Penderita Kanker Menolak Pengobatan Medis Konvensional

Mengapa para penderita kanker banyak yang menolak pengobatan medis konvensional?
Yang dimaksud dengan pengobatan medis konvensional adalah seperti tindakan operasi, kemoterapi, radioterapi, hormonterapi maupun terapi-terapi lainnya.

Alasan utama yang sering dijumpai adalah mereka tidak ingin dan tidak kuat menerima efek samping dari terapi konvensional tersebut.

Sebagai contoh adalah kemoterapi yang akan menimbulkan begitu banyak efek samping seperti penurunan kekebalan daya tahan tubuh, mual-mual, muntah-muntah, rambut rontok, kulit kering menghitam, susah tidur, tidak nafsu makan, bahkan kerusakan sumsum tulang belakang yang mengakibatkan terhentinya proses pembuatan sel-sel darah dan masih banyak efek samping lainnya yang akan menurunkan kualitas hidup dari si pasien.

Selain itu, pengobatan medis konvensional sifatnya hanya untuk mengatasi kanker sementara waktu saja dan tidak dapat menjamin bahwa kanker tidak akan kambuh kembali.

Mengapa para penderita kista, myota dan endometriosis banyak yang menolak tindakan operasi ?
Banyak kaum wanita yang takut untuk menjalani tindakan operasi karena rasa sakit dan luka yang membekas selamanya.

Selain itu, tindakan operasi juga tidak dapat menjamin bahwa kista, myoma dan endometriosis tidak akan kambuh kembali.

Sampai dengan saat ini, penelitian di bidang medis konvensional masih belum menemukan cara yang lebih efektif dalam mengobati kanker, kista, myom, dan endometriosis. Hal tersebut akhirnya membuat para penderita mencari pengobatan alternatif.

Apa itu Kista, Mioma dan Endometriosis?
Definisi singkat menurut dr. Sugi Suhandi Iskandar;
Kista Indung Telur adalah suatu massa berisi cairan, bisa kental seperti gel (mukus), bisa juga cair (serous). Kista ini diproduksi oleh kelenjar-kelenjar yang ada di ovarium, yang tak bisa dikeluarkan. Akhirnya tertampung, dan makin lama makin besar.

Mioma uteri adalah tumor jinak dari miometrium (otot rahim). Berdasarkan letaknya, mioma uteri bisa dibagi menjadi 3, yakni mioma intramural (di dalam otot rahim), subserosa (dibawah lapisan serous, menonjol ke arah rongga perut), serta juga submukosa (menonjol ke arah rongga rahim).

Endometriosis adalah suatu keadaan dimana endometrium berada di luar tempat yang seharusnya, yaitu di dalam rongga rahim. Endometrium sendiri merupakan lapisan yang melapisi rongga rahim dan dikeluarkan secara siklik saat mens sebagai darah haid.

Penyebab ketiga gangguan di atas sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti dan masih terus diteliti.

Gejala Kista, Mioma dan Endometriosis :
1. Nyeri haid hebat dan terus menerus.
2. Pembesaran di perut (kalau masih kecil belum teraba, semakin besar, akan makin teraba seperti ada benjolan).
3. Muncul gejala-gejala penekanan akibat pembesaran kista/mioma. Misalnya, ke depan menekan kandung kencing, ke belakang ke rektum. Akibatnya, muncul gangguan buang air besar dan buang air kecil.
4. Pada mioma uteri, jika ukurannya besar, bisa menekan organ-organ sekitarnya.
5. Jika kista bertangkai, bisa muncul nyeri perut tiba-tiba, bahkan muntah-muntah akibat tangkai kista yang terpuntir.
6. Bisa juga membuat luas permukaan endometrium menjadi lebih tebal, sehingga haid jadi lebih banyak. Ini karena kontraksi rahim berkurang atau terganggu, sehingga perdarahan saat mens lebih banyak.

Pencegahan
Hidup sehat, pola makan dan pola hidup yang baik, lakukan check-up medis minimal setahun sekali untuk ibu-ibu atau wanita yang sudah pernah berhubungan seks. Pada waktu melakukan pap smear, sebaiknya sekalian dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk melihat rahim dan indung telur. Kalau tidak ada fasilitas USG, bisa dilakukan pemeriksaan dalam. Dilihat rahimnya bagaimana besarnya, bagaimana bentuknya konsisten, indung telur kanan dan kiri bagaimana, dan sebagainya. Kalau teraba ada massa, harus hati-hati.

[Source : View]


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

4 comments

aroengbinang said... @ May 25, 2008 at 7:08 AM

Suatu ketika saya berada di sebuah kamar operasi di sebuah rumah sakit di Kumamoto, Jepang, untuk belajar tentang pemakaian cairan intravena pada operasi, dan apa yang saya lihat dari dekat adalah operasi pembuangan payu dara...
Deteksi dini, dan pemeriksaan berkala dan teratur bisa sangat membantu untuk penanganan yg lebih baik.

Nakinisa said... @ May 25, 2008 at 9:59 AM

@Aroengbinang
Pak Aroeng ini seorang dr. rupannya, terima kasih atas commentnya, pengalaman yang cukup menarik, mungkin bisa di sharing kepada kita2 yg masih awam ini, khususnya saya tentunya.

karena dari apa yg saya alami oleh salah satu keluarga saya, deteksi dini inilah terkadang yg membuat para dokter umumnya terlalu cepat mengambil kesimpulan, yg akhirnya membuat trauma si pasien itu sendiri, walhasil mereka mengambil cara alternatif.

Gandhi Anwar S said... @ May 25, 2008 at 7:08 PM

Hm.. menakutkan... Moga saja kita semua terhindar dari penyakit demikian... Amin...

Nakinisa said... @ May 25, 2008 at 7:25 PM

@Gandhi Anwar S
Betul pak, memang sungguh mengerikan dan terlebih bagi si pasien yg merasakannya, ngilu rasanya bila tahu si penderita tiba2 merasakan sakit yg sangat.

Salah satu cara terbaik yaitu tindakan preventif, seperti mengkonsumsi makanan, yg sering kali banyak dari kita yg kurang memperhatikan.

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!