Ratusan Model Instan Kurang Menggali Potensi Dirinya :: Nakinisa Sima

Seorang model ibaratnya memiliki kunci untuk membuka ruangan, yang di dalamnya tersedia beragam profesi. Bagaikan buffet yang menyediakan aneka jenis makanan.

Jika seorang model sudah menjadi public figure, penting baginya menanamkan nilai-nilai kepatutan pada dirinya.

Persiapan fisik dan mental, juga tak kalah pentingnya. Sebab mengandalkan fisik semata, akan menjadi berkurang nilai kepribadiannya. Karakter diri dengan sendirinya akan tampak jika inner beauty yang dimiliki terpancar dari dalam dirinya. Postur tubuh, sorot mata dan bahasa tubuh pun menjadi menonjol.

Kalimat yang terdengar bijak ini meluncur dari bibir Okky Asokawati, model ternama yang kini sering tampil di berbagai seminar kecantikan dan psikologi. Okky sedang tak bersilat lidah. Pengalaman yang membuatnya makin peka akan profesi yang digelutinya selama kurang lebih 23 tahun.

Perjalanan karirnya sebagai seorang model, memang tak semulus ratusan model-model instan yang bermunculan saat ini. Di masanya, tak ada hasil polling SMS yang bisa mendongkrak popularitas seseorang untuk menjadi model top.

Komentar juri pun yang boleh jadi sangat relatif penilaiannya. Suka atau tidak suka, proses inilah yang kini banyak dipilih sebagai acuan untuk menentukan layak tidaknya seseorang menjadi model dalam berbagai versi pemilihan model.

Menurut Okky, hal-hal seperti itulah yang membuat model-model masa kini kurang menggali potensi dirinya. Meski diakuinya, model model jaman sekarang lebih percaya diri dan berani mengungkapkan pendapatnya ketimbang dirinya dulu, "Ada juga sisi positifnya".

Namun, hal ini pula menjadikan regenarasi di dunia modeling tampak lebih lambat dari dunia entertainment lainnya. Jika dulu di jamannya, sederet nama model top seperti Sarita, Nana Krit, Enny Sukamto, Vera Kinan, Ria Juwita, begitu mudah diingat, kini agak sulit menemukan sosok penggantinya seabadi nama-nama mereka yang tak lekang oleh waktu dan jaman.

Derasnya arus globalisasi seolah membiaskan pesona model-model masa kini yang begitu cepat muncul dan tenggelam, silih berganti dalam waktu yang lebih singkat.

Sebagai model, selayaknya memang tak hanya menjadi contoh di catwalk, tapi juga menjadi panutan. Yang mengkhawatirkan jika dalam berbusana ada norma-norma dalam masyarakat yang dilanggar dan menjadi kebablasan. Adalah tanggungjawab kita semua untuk mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana cara berbusana yang baik.

Seorang model, akan lebih smart dan bernilai plus dengan dasar pendidikan yang diraihnya. Meski dalam berbusana kerap memakai tank top, ia tampak elegan karena bahasa tubuhnya mengisyaratkan jika ia seorang model yang professional, tidak semata-mata ingin tampil seksi.

Aura yang terpancar dari tubuhnya juga menandakan jika seorang model memiliki intelektual yang lebih dari cukup. Tatapan matanya pun akan tampak berisi, tidak kosong dan kelihatan hampa, kata wanita tinggi semampai pendiri OQ Modelling ini.

Kehidupan glamour di dunia fashion mestinya tidak serta merta membuat sang model menjadi kehilangan jati dirinya. Glamour hanya menjadi salah satu lakon yang dijalaninya ketika melenggak-lenggok di catwalk. Bukan menjadi alat pembenar sehingga ia bisa berbusana sesuka hatinya tanpa mempertimbangkan kehidupan sosial di sekitar lingkungannya.

Image yang melekat sebagai model berkelas itu pula yang semestinya menjadikan seorang model kian menyadari betapa sosok mereka dapat menjadi contoh yang baik.

Pergeseran nilai yang sepertinya sangat disadari Okky. Ia pun merasa bersyukur memiliki potensi lain yang terus menerus diasahnya. Tak heran jika sosoknya tetap cemerlang, meski merambah dunia lain sebagai pembicara di berbagai seminar.

Melalui seminar, orang tak hanya melihat penampilannya sebagai model yang biasa berjalan di catwalk, tapi juga memandang kelebihan lain yang dimilikinya.

Yang lebih membanggakan, orang akan memandang diri seorang model secara lebih lengkap. Tak hanya melihat penampilan fisik semata, tapi juga kepribadiannya, pola pikir dan wawasannya. Itulah yang membuat Ia selangkah lebih maju, dalam menjalani kehidupannya berpedoman pada filosofi "Apa yang ditanam hari ini, akan dituai hasilnya nanti". Dan itu bukan impian.

[Source : View]


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

0 comments

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!