Kewajiban Shalat Percuma :: Nakinisa Sima

Kewajiban Shalat Percuma

Sekitar empat tahun yang lalu saya sempat dikenalkan ikut-ikutan suatu bisnis yang bisa dikatakan multi level marketing (MLM) pada sebuah produk penghemat lisrik. Kebetulan saat itu saya bersilaturahmi di salah satu rumah rekan jaringan atau sebut saja upline, yang sedang malakukan presentasi di rumahnya.

Selang beberapa jam saat selesai melakukan prospek kepada beberapa calon downline, tanpa sengaja saya mendengar sebuah percakapan antara si pulan A dan si pulan B mengenai seseorang (sipulan C) yang melakukan kewajiban shalat lima waktu, namun kok prilakunya tidak mencerminkan seorang muslim, katanya, wah keliatannya cukup menarik untuk ikut nimbrung sekaligus mempertebal iman dan tambah wawasan dalam hati, demikian separuh cuplikannya:

A: si C kenapa seperti itu ya, banyak hutang dimana-mana, sudah banyak penagih datang ke rumahnya, tapi selalu beralasan ndak mau bayar.
B: iya padahal shalatnya rajin ya, trus buat apa dong kalo gitu shalatnya, percuma aja lah.

Saat kata-kata “ percuma ” keluar dari mulut si pulan B, kenapa hati ini seperti dituntut ingin ikut terjun nyemplung pada topik. Saya mencoba untuk masuk di sela-sela pembicaraan semakin menjauh.

Sambil meneguk secangkir kopi hangat, saya coba menklarifikasi kata-kata “ percuma ” yang dilontarkan oleh sipulan B. Sungguhkah benar kita sebagai seorang hamba Allah yang demikian jauh dari kesempurnaan dan tidak pernah luput dari lupa dan dosa, memiliki hak untuk menghisab atau melakukan judgment kepada hamba Allah yang lain atas kekurangan atau kekhilafannya?.

Sebagai salah satu rukun Islam, bahwa kewajiban shalat itu mutlak adanya, tidak pun bisa ditawar, seperti anda minum dan makan, apakah yang terjadi bila anda tidak makan atau minum dalam satu hari, bisakah anda katakan, nanti aja makannya atau besok aja minumnya, atau “ ah masih banyak makanan ini, tiap hari jumat ajalah makannya ” atau “ minumnya setiap lebaran idul fitri ajalah ”, “Don’t try at home”:).

Kita ambil sebuah contoh kongkrit sebuah perusahaan, apakah kewajiban dari seseorang karyawan perusahaan?, tentu saja masuk kantor setiap harinya dengan tepat waktu, kewajiban ini (mutlak) timbul karena hak yang diterima setiap bulannya (gaji) dari perusahaan tsb. Kemudian disaat melakukan tugasnya, salah satu karyawan (A) yang sudah bekerja selama 10 tahun melakukan kesalahan dalam bertugas, yang disebabkan karena khilaf atau lupa, tiba-tiba karyawan lain mengatakan kepada lainnya bahwa si (A) tidak pantas atau “ percuma “ bekerja di perusahaan tsb, tidak etis bila statement tsb keluar, yang sebenarnya hak itu dimiliki sang manager atau superior yang berwenang, dan sudah tentu perusahaan tersebut memiliki konsekwensi atau hukum yang telah ditetapkan bila salah seorang karyawan melakukan pelanggaran atau melakukan kesalahan dalam bekerja. Begitu juga dalam islam, sudah ada aturan dan konsekwensi yang akan diterima bagi seorang muslim/ah bila melakukan pelanggaran (dosa), setidaknya di kehidupan berikutnya.

Yang jadi permasalahan sebenarnya, apa sebutan yang pantas untuk seorang karyawan yang sudah menerima haknya setiap bulan, namun tidak pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang karyawan untuk masuk kantor?, apalagi yang notabene kita sudah lebih dulu menerima hak kita sejak lahir.


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

6 comments

Yusa Indera said... @ July 17, 2008 at 9:06 AM

Halo mas SIma..waduh jadi takut ni commentnya.... ya netral ajalah mas sy commentnya... sbg muslim kewajiban kita adalah solat ya harus kita kerjakan.. ya itu kan nanti penilaiannya dari Allah SWT.. selama kt berikar sbg muslim ya itulah kewajiban kita.. kecuali kalau sudah tidak yakin lagi dengan islam..

Ani said... @ July 17, 2008 at 12:42 PM

Segala kebaikan dan keburukan kan nantinya dihisab di hari akhir, biarlah Allah Swt dan "tim"NYA yang melakukannya, mungkin tugas kita sebagai sesama hamba Allah hanya sekedar mengingatkan apabila saudara kita berbuat salah.

SHALEH said... @ July 18, 2008 at 12:41 PM

No comment, karena orang yang bilang itu juga ga bisa jaga aib seseorang. hehehe

Administrator said... @ July 20, 2008 at 4:36 AM

Shalat yang berkualitas adalah yang mencegah pelakunya dari berbuat keji dan munkar. Yang melahirkan ketajaman kualitas shalat adalah khusyuk. Dan sesungguhnya shalat khusuyuk bukanlah hanya monopoli para Nabi dan orang orang shaleh. Semua bisa merasakan shalat khusuk dengan keyakinan, tekad dan terpenting adalah kemauan.

Bukan berarti shalat saya sudah khusuk kemudian "berkhotbah" seperti ini. Sama sekali tidak. Ini hanyalah nasehat. Buat saya dan untuk kita semua.

Semoga Allah SWT memberikan kemampuan pada kita untuk dapat mendirikan shalat dengan benar dan berefek pada kehidupan kita sehari hari Amiiin

Nakinisa said... @ July 27, 2008 at 5:50 PM

@ Yusa Indera
sip mas, sesombong2nya seorang manusia dari yg tersombong adalah manusia yg tidak mau sujud dan tunduk pada Tuhannya.

@ Ani
betul mba, tugas kt antar sesama hanya saling mengingatkan, lebih baik menyibukkan diri dg introspeksi, krn sekecil apapun amal perbuatan yg dilakukan, akan ada pertanggung jawabannya kelak.

@ SHALEH
setuju mas

@ Administrator
Amiin...

JoVie said... @ August 4, 2008 at 6:54 PM

bagus nih Mas...

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!