Tukang Kayu :: Nakinisa Sima

S eorang blogger itu seharusnya adalah seorang yang hobinya menulis walupun tidak harus, kata siapa?, akan tetapi tidak tahu kenapa akhir-akhir ini saya lebih suka membaca ketimbang membuat sebuah postingan.

Bila dilihat dari judulnya, bisa saja postingan ini menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan kerajinan kayu, pengrajin kayu, kerajinan tangan sendal sepatu, ukiran, handicraft ataupun sebuah tema template minima yang berkenaan dengan usaha kecil menengah (UKM), tapi sayangnya bukan itu yang dimaksud :).

Meskipun cerita berikut sudah sering kita baca, lihat dan dengar di banyak forum, milis, maupun blog berkategori termahal, terbaru, terakhir, terkenal, namun saya refresh lagi di sini dikarenakan isi yang disampaikan dalam cerita si “ tukang kayu ” menarik sekali untuk dijadikan sebuah renungan dalam kehidupan sehari-hari (terutama buat saya pribadi), berikut ceritanya :

Seorang tukang kayu yang sudah tua dan tidak lagi mampu bekerja karena alasan fisik, bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tidak lagi bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya untuk menghidupi keluarganya. Namun keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan perasaan malas dan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Dan saat membangun rumah pesanan majikannya itu, ia menggunakan bahan-bahan dengan kualitas yang sangat rendah. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah dengan kualitas yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu”, katanya, "hadiah dari kami".

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita sendiri tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.

Meskipun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri.


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

1 comments

masenchipz said... @ July 15, 2008 at 9:55 AM

ehm...ehm... kacian tuh tukang kayu ya... coba dia belajar kalo melakukan sesuatu itu musti yang terbaik... walau itu buat orang lain.... jadi temennya bawang tuh orang.... cebe' dech..... hiks...hiks....

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!