Mendidik Anak Soal Uang :: Nakinisa Sima

Tahu mainan Monopoli?, ternyata mainan sederhana itu berguna dalam memberi pendidikan awal ke anak soal uang.

Prinsip apa saja yang diajarkan oleh Monopoli?
Satu, bahwa segala sesuatu ada harganya.
Dua, bahwa kepemilikan aset atas tanah itu penting.
Tiga, bahwa untuk menggunakan aset orang lain kita musti bayar pajak.
Empat, bahwa kesempatan bisa hilang begitu saja hanya karena kita dipenjara, kehilangan satu putaran, atau saat nilai dadu yang keluar tak sesuai keinginan.
Lima, keberadaan aset rumah dan hotel menjadikan nilai atas aset tanah kita berlipat ganda.
Enam, bahwa aset bisa diagunkan ke bank sebagai alat tukar sejumlah uang dan bunga.
Tujuh, bahwa cara terbaik menjadi kaya raya adalah dengan menguasai mayoritas lahan atau monopoli di kawasan elit. Dengan cara itu kita menjadikan para pesaing yang kebetulan berhenti di sana jatuh miskin.
Delapan, bahwa cara tercepat menjadi kaya dan memperluas kesenjangan antara kaya dan miskin adalah dengan menguasai aset-aset di lahan premium, karena nilainya berlipat ganda.

Mendidik anak mempraktekkan sendiri masalah keuangan bisa dimulai sejak kelas 1 atau 2 Sekolah Dasar. Serahkan sejumlah uang untuk kebutuhan jajan mereka di akhir pekan dan kebutuhan tersier seperti sepatu dan pakaian, tapi berlakulah tegas.

Kalau seluruh budget dihabiskan untuk membeli es krim mahal, ya biarkan saja, tapi budgetnya jangan ditambah. Dan biarkan ia duduk dengan ngiler dan ngeces karena uang jajannya sudah habis, sementara menyaksikan saudara-saudaranya makan pizza atau makanan enak kesukaan mereka.

Begitu juga pilihan untuk beli sepatu mahal atau sepatu murah, kaos mahal atau kaos murah. Dalam waktu singkat anak-anak usia 7-8 tahun ini akan belajar menahan diri untuk tidak menghabiskan seluruh uang mereka. Dan saat usianya sudah lebih besar lagi, atau ketika mereka sudah bisa berjualan barang-barang kecil, misalnya pernak-pernik playstation, aksesoris rambut dan sepatu untuk gadis-gadis kecil, bukalah sebuah rekening bank atas nama mereka. Biarkan mereka merasa bertanggung jawab atas sejumlah uang, meskipun hanya sedikit.

Kalau ayah menjadi presiden dalam sebuah keluarga, dan istri menjadi menteri keuangan, maka jadikan anak-anak sebagai staf ahli. Libatkan mereka dalam diskusi keuangan keluarga. Beritahu mereka dari mana saja uang datang, dari gaji ayah, dari gaji ibu, dari pendapatan sampingan ini dan itu. Lalu apa saja yang akan dibeli dengan uang itu, makanan harian, pendidikan, asuransi, cicilan rumah, cicilan mobil, dan pakaian.

Berapa banyak uang dihabiskan dalam sebulan untuk menjaga standar minimal kehidupan layak, apa saja masukan mereka, hargailah. Misalnya soal bagaimana menghemat pengeluaran air, PAM, dan PLN. Juga, bagaimana agar jalan-jalan keluar rumah setiap akhir pekan bisa lebih dihemat lagi daripada sebelumnya. Sebab hanya dengan cara didengarkan itu mereka merasa dilibatkan dalam sebuah proses pengambilan keputusan penting. Dan dengan cara dihargai, mereka akan mengingat proses ini sepanjang hidup mereka nanti. Cara berpikirnya pun sudah akan dibentuk sedemikian rupa, agar jangan mereka mengulangi perilaku kebanyakan keluarga modern dewasa ini "Besar Pasak daripada Tiang" (khususnya di Jakarta).

[Source : 3636]


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

0 comments

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!