Akidah, Syariah dan Akhlak Merupakan Kekuatan Islam :: Nakinisa Sima

S etan dan pengikut-pengikutnya berupaya memisahkan kaum muslimin dari akhlak. Padahal kesatuan akidah, syariah, dan akhlak merupakan letak kekuatan Islam. Lawan-lawan Islam tidak menghalangi kita shalat, berpuasa, atau haji, tapi mereka berupaya memisahkan kita dari akhlak. Selalu ada upaya memisahkan akhlak dari politik, akhlak dari ekonomi, dan akhlak dari hubungan pria dan wanita, sehingga lahirlah ajakan yang mengarah kepada pornografi, busana dan mode yang meruntuhkan nilai budaya dan agama, serta lahirlah praktek berpolitik dan berbisnis yang tidak sejalan dengan nilai agama dan budaya, dan itu semua terjadi karena sebagian dari kita lengah.

Islam tidak hanya memberi tuntunan ritual, dalam rangka hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberi bimbingan dalam hubungan antar manusia, bahkan hubungan manusia dengan alam dan lingkungannya, baik lingkungan wujud nyata maupun yang tak nyata (Yaa 'alimal ghaibi wa syahadah).

Tuntunannya bukan hanya menyangkut hal-hal besar melainkan juga yang kecil-kecil, dan boleh dianggap remeh oleh sementara orang, lalu yang remeh itu pun dikaitkan dengan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Aneka aktivitas, bahkan makan dan berpakaian, tidur, cara tidur, bangun tidur, mandi atau ke wc, termasuk kaki mana yang hendaknya didahulukan melangkah ketika masuk dan keluar, semua ada aturan dan tuntunannya, dan semua dikaitkan dengan Allah SWT.

Semua persoalan yang dihadapi oleh umat manusia dapat ditemukan tuntunannya secara eksplisit atau implisit dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Islam menyatukan dalam tuntunan akidah, syariah dan akhlak, ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan, dan di situlah letak kekuatan Islam.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa, setan dan musuh-musuh Islam telah berputus asa untuk mengalihkan kaum muslimin dari akidah mereka. Karena itu setan merasa puas dengan memecah belah umat Islam, dan memilah-milah ajaran Al-Quran. Setan dan pengikutnya berusaha memecah belah kaum muslimin dan memisahkan mereka dari tuntunan agama dalam hal-hal yang terlihat remeh.

Manusia disamping memiliki banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi tanpa kerja sama, juga memiliki ego yang selalu menuntut agar kebutuhannya bahkan keinginannya dipenuhi semua dan terlebih dahulu. Setiap orang harus mengorbankan sedikit atau banyak dari tuntutan egonya guna kepentingan pihak lain, bahkan untuk kepentingannya sendiri demi meraih ketentraman. Pengorbanan inilah benih dari lahirnya akhlak mulia, tanpa pengorbanan atau tanpa akhlak mulia, masyarakat bangsa tidak dapat tegak.

Sumber : Quraish Shihab


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

0 comments

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!