Bisakah Obama Menepati Janji? :: Nakinisa Sima

K emenangan Barack Hussein Obama dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat awal November lalu mampu menyita perhatian publik. Tidak hanya masyarakat AS, masyarakat di luar AS pun terbalut kegembiraan yang mengharu biru. Apalagi di Indonesia, kemenangan presiden dari Partai Demokrat itu disambut keceriaan sekaligus kebanggaan. Bagaimana tidak bangga, Barack Obama yang kini menjadi Presiden AS ke-44 itu pernah hidup di Indonesia.

Jargon perubahan yang disuarakan Obama memang diakui mampu menyedot antusiasme masyarakat AS yang tengah dilanda pesimisme akibat tingkah polah kebijakan Bush. Krisis keuangan yang melanda AS setidaknya menambah kerinduan bagi masyarakat AS untuk sesegera mungkin menghadirkan wajah baru. Tak ada tawaran lain, Obama adalah wajah baru yang diharapkan mampu mengatasi krisis agar AS tidak terjerembab dalam keterpurukan.

Masyarakat AS pun berharap kepada Obama, sosok berkulit hitam yang pertama kali mampu menjadi presiden setelah dua abad lebih diduduki presiden berkulit putih. Disadari atau tidak, setiap kampanye di negara manapun selalu mengusung sebuah tema perubahan. Seperti dilakukan Obama, kampanye calon presiden dan calon legislatif di negeri ini juga mengangkat isu perubahan untuk mempengaruhi publik.

Ketika Presiden Susilo BambangYudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla berhasil unggul di putaran kedua dalam pemilihan presiden pada 2004 lalu, masyarakat Indonesia pun begitu gegap gempita. Kemenangan dengan perolehan persentase lebih dari 50 persen atas pasangan Megawati-Hasyim Muzadi menegaskan dukungan signifikan masyarakat. Seperti Obama yang membius masyarakat AS dengan kalimat "Yes We Can", pasangan Susilo BambangYudhoyono-Jusuf Kalla meneriakkan "Bersama Kita Bisa".

Harapan masyarakat AS atas Obama juga dirasakan masyarakat Indonesia empat tahun lalu. Tentu saja, siapa pun sulit memastikan apakah AS di tangan Obama akan menghadirkan perubahan-perubahan berarti. Masih perlu bukti lebih lanjut dari Obama terkait janji perubahannya selama kampanye. Begitu pun kampanye di negeri ini tidak menjamin apa yang dijanjikan para politisi akan berwujud nyata. Lantas, apa yang akan membedakan setiap kampanye yang selalu mengutamakan perubahan?, jawabannya adalah bukti nyata. Tidak sekadar ucapan, tapi realisasi di lapangan ketika terpilih menduduki kursi kekuasaan. Dalam masa kampanye begitu sering janji-janji diumbar di depan publik, tapi apakah politisi akan mewujudkan janji itu di alam realitas?.

Yang jelas, setiap ucapan dan perkataan dikatakan sebagai janji karena belum nyata diterapkan di lapangan. Yang namanya janji pasti ideal dan tidak mungkin menjanjikan sesuatu yang sifatnya buruk. Dalam agama dijelaskan bahwa ciri orang yang munafik salah satunya adalah yang ingkar terhadap janji. Untuk itu, politisi hendaknya bisa berjanji untuk ditepati, bukan janji yang sekedar untuk mengelabui publik.


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

0 comments

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!