Merokok Ancam Jabatan Manajer :: Nakinisa Sima

A da dua larangan yang sangat efektif dan memiliki kekuatan mengatur. Satu, dilarang merokok di SPBU, kedua, dilarang memakai sandal atau sepatu di dalam masjid. Dua larangan itu hampir tidak ada yang coba-coba menentangnya. Risikonya jelas, kalau nggak kena ledakan, ya ditonjoki banyak orang. Berbeda dengan tulisan "Dilarang membuang sampah sembarangan", biasanya justru di tempat itulah banyak tumpukan sampah.

Aneh memang, mengatur mahkluk Tuhan yang bernama manusia. Kalau tidak ada reaksi langsung, atau berdampak seketika, orang cenderung cuek. Sama seperti rambu-rambu lalu lintas. Tanda dilarang parkir justru dibaca sebagai, "Di sini lahan parkir yang nyaman". Tanda dilarang berhenti juga menjadi tempat ngetem yang aman. Tanda dilarang mendahului seolah isyarat boleh kebut-kebutan. Apalagi sekedar tanda gambar rokok dicoret merah, yang sanksinya masih sangat lemah. Belum ada yang kena tilang 50 juta atau dikurung 6 bulan.

Lain halnya di Singapura, di sana orang tertib dan patuh karena denda besar yang nggak ada ampun. Menabrak lapangan, siapapun, kapanpun, dengan alasan apapun, ditangkap dan didenda. Tidak harus 50 juta untuk pelanggar larangan merokok, cukup 1 juta saja mereka sudah langsung jera.

Tarik menarik antara pro-rokok dan anti-rokok juga sangat kencang, pro- rokok pun tidak kalah serunya untuk mengkampanyekan trik merokok yang sehat. Lho, ada tho merokok tapi tetap sehat?:). Belum pernah ada yang membandingkan, bagaimana derajad kesehatan seorang perokok yang makanannya sehat, dengan bukan perokok, tapi makanannya kambing, santan, jerohan, usus, hati, lemak, dll. Mana yang lebih sehat hidupnya?. Dan juga belum ada yang membandingkan, orang yang hidup berlama-lama di ruangan AC dengan berkarpet kotor dan bukan perokok, dengan orang yang hidupnya berada di ruang terbuka hijau tetapi dia perokok. Lebih berbahaya mana ya?, pasti yang cepat mati adalah yang merokok, pola makanannya ngawur, ruangannya ber AC, karpetnya kotor dan tertutup:).

Dan yang akan panjang umur adalah yang tidak merokok, jaga makanan, jaga kebersihan ruanganAC-nya, berolahraga teratur dan hidup seimbang. Artinya, soal kanker paru-paru, jantung koroner, impotensi, gangguan kehamilan dan janin itu bukan hanya rokok satu-satunya sebab, masih ada faktor lain, seperti makanan dan kebiasaan hidup, yang boleh jadi dampaknya lebih kuat menjadi penyebab itu semua.

Kalangan pro-rokok sering membandingkan dengan cara itu, lalu larangan seperti apa yang paling telak bagi perokok. Mungkin bukan berupa larangan seperti dosis dalam keterangan obat-obatan. Misalnya, merokok itu boleh dan tetap sehat, umur 18-30 tahun sehari 5-7 batang, umur 30-40 tahun sehari maksimum 3-4 batang, umur 40-50 tahun hanya boleh 1-2 batang sehari. Itupun disesuaikan dengan kadar tar dan nikotin yang ada di setiap merek rokok. Jadi, merokok itu tidak dilarang, asal sesuai takarannya, persis seperti minum obat. Siapa tahu cara ini lebih bisa diterima?:).

Jadi orang tidak perlu ditakut-takuti dengan kanker paru-paru, seperti yang pertama kali isu ini dikeluarkan oleh persatuan dokter AS tahun 1964, yang membuat industri rokok terpukul. Setahun kemudian di Inggris, produk rokok dilarang beriklan di televisi. Di AS juga menerapkan aturan yang sama, tahun 1970. Healty warning, atau peringatan kesehatan di kemasan rokok pun dimulai di AS.

Tahun 1987 larangan merokok di penerbangan diterapkan di AS. Lalu 1993 larangan merokok di area publik, baik di Inggris maupun AS. Tahun 1994 McDonald di seluruh dunia mulai melarang merokok di jaringan restorannya. Kemudian di New York, London, Irlandia, tahun 2003 mulai memberlakukan larangan merokok di semua tempat tertutup. Pada saat yang sama, Indonesia memberlakukan larangan iklan di prime time untuk produk rokok, mereka hanya bisa beriklan selepas pukul 21.30 WIB.

Regulasi menekan kebiasaan merokok itu makin ketat, makin keras, tetapi tidak membuat industri rokok di tanah air ini surut, justru semakin subur. Rokok non label cukai pun banyak beredar di pasar. Rokok murah dengan menjiplak rokok yang sudah branded pun berkembang di mana-mana. Pemerintah dirugikan, perusahaan rokok besar juga terimbas, tetapi jumlah perokok tidak berkurang.

Ada trik larangan merokok yang unik, seperti yang dilakukan Kaltim Post terhadap karyawannya. Setingkat manajer tidak boleh merokok, dimanapun, kapanpun, dengan alasan apapun. Kalau ketahuan oleh siapa saja, tinggal difoto, lalu dilaporkan ke pimpinan, maka dia digeser dari jabatan manajer-nya, resiko jabatan ya resiko pendapatan juga tentunya. Mengapa sesadis itu?, karena manajer memperoleh asuransi dengan biaya lebih mahal, sehingga kalau sakit, kelasnya pun lebih mahal. Karena itu dia dianggap tidak sopan kalau melakukan kebiasaan buruk buat kesehatan dirinya sendiri, meskipun sudah diasuransikan. Sehingga, kalau mau menggeser pimpinan atau setingkat manajer, foto saja kalau sedang merokok, mereka akan diselesaikan secara adat.

Bagaimana jika merokoknya berjamaah, bersama-sama? ya semuanya kena, yang bukan manajer didenda uang cash. Bagaimana kalau ada karyawan tahu, ada karyawan lain yang merokok, tetapi tidak dilaporkan pimpinan?. Ketika diketahui, misalnya ada 2 karyawan yang 1 merokok, yang 1 tidak. Maka yang merokok kena sanksi denda, yang tidak merokok pun kena sanksi denda 50% dari denda perokok. Dia kena pasal, sudah tahu kawannya merokok, tidak melaporkan dan juga membiarkan begitu saja.

Source [Mr. Don Kardono]


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

0 comments

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!