Pengurbanan Beralih Menjadi Budaya Korupsi :: Nakinisa Sima

T uhan telah mengajarkan arti sebuah pengurbanan sejati melalui bapak para nabi, yaitu Ibrahim Alaihisalam. Tak tanggung tanggung pengurbanan yang dituntut Tuhan dari Ibrahim adalah menyembelih Ismail, putra satu-satunya yang kehadirannya telah ditunggu bertahun-tahun. Ibrahim sempat bimbang dan ragu, akhirnya ia berbulat tekad menyembelih putranya Ismail hanya untuk ibadah memenuhi permintaan Tuhannya.

Ibrahim tahu persis konsekuensi perintah itu. Ia bakal kehilangan putra kesayangannya. Namun Ibrahim bukanlah pribadi yang berpikiran sempit dan sesaat. Ia adalah pribadi yang percaya dengan masa depannya kelak di akherat walau harus kehilangan seseorang yang amat sangat dicintainya. Ibrahim adalah pribadi yang teguh meski setan dan iblis gigih merayunya. Berkat keteguhannya, Ibrahim menjadi pribadi yang agung. Keshalehannya masyhur dan selalu dikenang untuk menunjukkan gambaran sebuah pengurbanan sejati.

Setiap tahun ajaran Ibrahim diperingati, setiap tahun pula ajaran itu dijalankan, baik yang di tanah air maupun yang berada di tanah suci. Ajarannya sama, yaitu sebuah pengurbanan. Namun sekarang rasanya semangat pengurbanan hanya sebatas memotong hewan kurban dan membagikannya ke masyarakat yang tidak mampu, dan selesai sampai disini.

Tuhan pasti memiliki maksud yang lebih dari sekedar memotong hewan kurban. Mengajarkan pada makhluknya arti sebenarnya sebuah pengurbanan. Tidak berlebihan bila dikaitkan antara semangat pengurbanan dan kebangsaan. Masa perjuangan seluruh rakyat dahulu rela mengurbankan nyawanya hanya untuk sebuah kemerdekaan. Mereka tidak tahu bakal jadi apa kelak bila negara ini sudah merdeka. Yang ada dalam benaknya adalah meraih kemerdekaan agar anak cucunya hidup lebih baik.

Dan kini semangat itu mulai luntur, hidup dipenuhi dengan transaksi, sesuatu harus ada imbalan. Karenanya tak mengherankan bila birokrasi saat ini penuh dengan biaya siluman yang menyuburkan budaya korupsi. Budaya yang menghancurkan sendi-sendi bangsa ini, lebih jahat dari lintah darat.

Para pelaku korupsi bukanlah orang yang tidak terpelajar. Justru dari para terpelajar inilah bangsa ini dilemahkan. Korupsi sampai dibuat sistematis, bahkan dibuat dan dijalankan secara berjamaah/kolektif. Padahal para koruptor ini sebelum memegang amanah berupa jabatan atau menjadi pegawai negeri sudah bersumpah bekerja sebaik-baiknya untuk berkurban melayani rakyat. Dan memang ketika seseorang sudah memutuskan menjadi pejabat publik atau pegawai negeri, sudah semestinya siap berkurban untuk melayani dan berbuat kebaikan untuk masyarakatnya. Bukan sebaliknya, minta dilayani dan bahkan menyengsarakan rakyat dengan perilaku korupsi.

Jadi kalau tidak siap berkurban untuk rakyat, sebaiknya tidak usah menjadi pejabat publik, anggota legislatif, atau berkecimpung di dunia birokrasi atau pegawai negeri. Alih-alih mau berbuat baik di Hari Raya Idhul Adha dengan berkurban, tidak tahunya uang yang dibelikan hewan kurban hasil korupsi. Apa nyampai ya pahalanya? Wallahu 'alam bishowah. Hanya Tuhan yang tahu.

Sumber >> Soetrisno Bachir


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

3 comments

thefachia said... @ December 11, 2008 at 6:57 PM

makasih banget pencerahannya.. :D

Ani said... @ December 13, 2008 at 9:20 AM

Terimakasih ya mas kunjungan dan komennya, ternyata masih ingat saya :-) Btw, saya sudah nggak diblogspot lagi ya mas, yang blogspot dah ganti pemilik.
Semoga kita tidak terbawa arus budaya korupsi...amiin.

Akhmad Guntar said... @ December 15, 2008 at 11:58 AM

Idealnya, dosa dari anak adam akan diampuni seiring dengan tetesan darah yang mengalir dari hewan kurban. Nah, tapi ya memang itu masalahnya; klo dia sudah ndak ngerasa berdosa, atau enggan bertaubat, apa masih akan diampuni dosa2nya.

....saya ngaca ke diri sendiri....

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!