Profit Oriented atau Social Benefit :: Nakinisa Sima

P engamat ekonomi dalam beberapa talk show di media audio visual menegaskan, turunnya harga Premium hanya berefek psikologis dan politis. Artinya, penurunan harga tersebut memberi kelegaan dan tentunya simpati bagi calon presiden periode berikutnya. Yang berpeluang terjadi pada pasar riil adalah penurunan harga Premium tidak memberi pengaruh besar pada eskalasi harga bahkan sampai tahun mendatang.

Jika demikian, penurunan harga bahan pangan hanyalah mimpi siang bolong. Logikanya, pendapatan dan keuntungan para pedagang tidak mungkin dikurangi. Maksudnya, para pedagang mulai dari skala kecil sampai internasional menginginkan kenaikan keuntungan. Penambahan profit bertujuan untuk bertahan hidup, menambah modal, atau mengembangkan jaringan perdagangan. Ini terjadi karena kerugian menjadi monster di depan mata yang siap menghabisi setiap saat.

Kerugian bukanlah kemungkinan di negeri ini, tetapi sudah bermetamorfosis menjadi sebuah kepastian. Salah satu cara instan menambah profit adalah dengan menaikkan harga. Cara ini merupakan solusi jangka pendek untuk menghindari kepastian rugi. Uniknya, kenaikan harga yang dilakukan pedangang akhir-akhir ini menutup mata terhadap merosotnya daya beli kebanyakan orang. Inilah hukum dagang ala Indonesia. Walaupun sisi permintaan dan persediaan menurun, yang penting harga naik. Pertanyaannya, sampai batas mana kenaikan harga ini akan berlanjut?.

Bisa jadi fundamental ekonomi Indonesia kuat, seperti kata para pemimpin dan analis ekonomi, sehingga kita tetap bertahan dalam situasi sulit. Tetapi, bisa jadi pula sektor finansial dan riil kita ambruk lagi karena imbas krisis finansial global yang datang bagai tsunami. Hantu PHK massal sudah menunjukkan giginya dengan alasan bangkrut atau bertahan diterpa krisis. Entah fundamental ekonomi kuat, entah kita akan ambruk, kita sudah harus meninjau ulang sistem perekonomian bangsa kita ini.

Sekali lagi, prioritas penataan publik perekonomian bangsa ini mau diarahkan ke mana, jika kita semua sibuk menyelamatkan dagangan, kita tidak sungkan-sungkan menaikkan harga. Jika perhatian kita hanya pada menambah profit supaya dapat bertahan dengan alasan apa pun, kita akan menyaksikan strata sosial atas, menengah, dan bawah rontok bersama. Melihat kenyataan pasar riil seperti ini, orientasi penataan publik perekonomian kita harus berubah. Tuntutan ini bukan ditujukan hanya kepada pemerintah, tetapi juga kepada semua pelaku perdagangan.

Pertanyaan untuk mengubah orientasi ini sepele, yaitu maukah kita sama-sama sebagai produsen dan distributor atau kaum pedagang ini menurunkan profit yang akan kita dapatkan?, pertanyaan ini jelas tidak masuk akal. Di tengah kompetisi perdagangan yang kian ketat, kok diminta merugi?, untuk bertahan saja sulitnya setengah mati. Jika orientasi penataan perekonomian kita hanya berkutat di sekitar profit atau profit oriented, pertanyaan tersebut kedengaran naif dan mimpi di siang bolong. Tetapi jika kita mengubah orientasi menjadi demi "kebaikan" masyarakat luas sebagai mayoritas konsumen yang sudah tidak mampu membeli bahan pokok, barangkali pertanyaan itu perlu ditanggapi.

Adam Smith sudah jauh-jauh hari mengingatkan kita tentang orientasi perekonomian demi "kebaikan" masyarakat atau social benefit. Filsuf Inggris ini menganjurkan para pedagang agar orientasi usaha mereka melayani pembeli. Pelayanan konsumen dianjurkan menjadi sikap moral para pedagang, bukan lagi orientasi yang memberikan keuntungan.

Sekarang pelayanan konsumen harus melampaui keramahtamahan dan kesigapan dalam melayani pembeli. Pelayanan kepada konsumen untuk konteks tahun-tahun krisis ini dapat dilakukan dengan menurunkan profit margin. Alih-alih menambah keuntungan, para pedagang sebaiknya memberi peluang kepada konsumen lapisan bawah agar bisa membeli. Caranya, mematok harga saat ini, sehingga tidak akan dinaikkan atau malah menurunkan harga.

Alasan lain menurunkan profit margin, menjaga harga tidak naik, bahkan menurunkan harga adalah menjaga roda ekonomi bangsa ini tetap berputar. Kita tidak ingin mengalami roda perekonomian berhenti hanya karena rantai produksi-distribusi-konsumsi berhenti di bagian konsumsi. Bagaimana pun juga, konsumen mulai dari strata bawah sampai atas, merupakan kunci berjalannya produksi dan distribusi. Pengabaian peran konsumen dalam roda ekonomi berakibat fatal.

Oleh karena itu, demi konsumen atau sebagian besar masyarakat yang berada di strata bawah, tuntutan turunnya harga Premium per 1 Desember adalah situasi riil. Turunnya harga Premium harus lebih dari sekadar memberi efek psikologis massa dan efek popularitas politis untuk calon penguasa. Di balik tuntutan turunnya harga, tersirat keberlangsungan roda perekonomian bangsa kita. Pesan tersirat ini makin jelas mengajak kita merumuskan sistem perekonomian yang berorientasi sosial dan meninggalkan perekonomian berorientasi profit.

Penting menjadi pemikiran kita bersama bahwa perekonomian berorientasi sosial justru membantu para pelaku perdagangan untuk mengembangkan usahanya. Tentunya para pedagang dan pemerintah tidak mau perekonomian negara ini berhenti seiring dengan naiknya harga yang pelan tapi pasti.

Source [Staff Pengajar Fakultas Filsafat dan Pusat Kajian Humaniora UNPAR]


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

0 comments

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!