Proyek The St. Moritz Penthouses and Residences :: Nakinisa Sima

Proyek The St. Moritz Penthouses and Residences

Dampak krisis keuangan global sampai saat ini masih berjalan, tidak menghambat PT. Lippo Karawaci Tbk untuk terus menjalankan mega proyek The St. Moritz Penthouses and Residences di Puri Indah, Jakarta Barat. "Meskipun dibangun di tengah krisis, St. Moritz akan mampu menghadapi kesulitan melalui fundamental yang kuat. Ini adalah proyek padat karya yang menampung ribuan tenaga kerja," kata Mochtar Riady, pendiri Lippo Group, saat prosesi pemancangan riang pertama- groundbreaking The St. Moritz Penthouses and Residences baru-baru ini.

Mochtar menjelaskan, St. Morirz akan menjadi pusat pertumbuhan di wilayah Jakarta Barat. Pada syukuran permulaan konstruksi yang dilangsungkan di kantor pemasaran St. Moritz di central business district (CBD) Jakarta Barat. Hadir dalam acara tersebut diantaranya Wakil Presiden Komisaris PT. Lippo Karawaci Tbk, Theo L. Sambuaga, Komisaris PT. Lippo Karawaci Tbk Tanri Abeng, Komisaris Independen PT. Lippo Karawaci Tbk Agum Gumelar, dan Walikota Jakarta Barat, Djoko Ramadhan.

Industri properti di Indonesia berbeda dengan 10 tahun lalu saat terjadi krisis moneter di dalam negeri. Bahkan krisis tersebut justru menjadikan Indonesia menjadi lebih kuat dan dapat beradaptasi dengan perubahan, "ini saatnya kita bangkit, krisis yang terjadi di AS bukanlah kematian bagi bangsa ini," tegas Mochtar.

Penegasan keberlangsungan proyek St. Moritz juga disampaikan CEO Lippo Group James Riady. Menurutnya, pendanaan St. Moritz tidak bergantung kepada perbankan. "Kami sudah tidak bergantung lagi kepada dana perbankan karena memiliki REIT's (Real Estate Investment Trust) di luar negeri. Lippo Group juga memiliki rating yang menemukan tingkat baiknya investasi yang kami lakukan," kata James. Lebih lanjut James menuturkan, pihaknya optimistis Indonesia tidak akan terkena imbas lebih lanjut dari krisis keuangan AS. Hal ini disebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih relatif stabil.

"Kalau di Amerika, pertumbuhan minus 1 % bisa terjadi. Namun di Indonesia, pertumbuhan 7% hanya turun menjadi 5,5% saja. Tidak ada yang memprediksikan pertumbuhan Indonesia akan minus," tegas James. Dia menambahkan, setelah krisis 1997, Indonesia menjadi lebih dewasa dan lebih kuat dalam fundamental ekonomi. Bahkan kata James, dengan hasil restrukturisasi yang semakin baik, krisis moneter 10 tahun yang lalu menjadi sebuah berkah bagi Indonesia.

Sumber : View


Related Content by Category



Blog Widget by LinkWithin
Feel free to subscribe via Rss Feed or enter your e-mail below to have the latest update !
Your e-Mail:

Subscribe to Nakinisa Sima

0 comments

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bercanda boleh, asal jangan spam!